Kamis, 28 Juli 2011

Papa Kembalikan Tanganku...

Lisa adalah seorang gadis cilik berusia 5 tahun. Lisa adalah gadis yang periang, lincah dan suka bermain. Namun, lisa tidak dapat bermain bersama papa, mamanya karena mereka berdua terlalu sibuk.

Orang tua Lisa memulai keluarga mereka dalam keadaan minus dan oleh karena itu mereka selalu bekerja keras membanting tulang dan hampir tidak pernah di rumah, hingga akhirnya keluarga kecil ini beranjak mapan. Setelah kehadiran Lisa di keluarga mereka, mereka semakin hari semakin sibuk dan selalu pulang malam saat Lisa sudah tertidur. Lisa selalu bermain ditemani pengasuhnya, mbak Mira.

Setiap pagi Lisa selalu memperhatikan sang papa membersihkan dan mencuci mobil cadilac kesayangannya yang berwarna hijau metalik. Lisa senang melihat papa membersihkan mobil itu, mobil itu terlihat berkilauan diterpa cahaya mentari pagi hari. Setelah mencuci mobilnya papa memasukkan mobil kesayangannya kembali ke garasi dan berangkat bekerja.

Suatu Pagi, Lisa duduk bersimpu di teras sambil melihat papa mencuci mobil kesayangannya sementara pengasuhnya menyuapi Lisa bubur ayam favoritnya.

Lisa tertawa geli melihat papa menyirami mobil itu dengan busa. Lisa rindu untuk bermain dengan papanya, namun papa tidak pernah punya waktu untuk Lisa.

Setelah memasukkan mobil ke garasi papa melangkah melewati Lisa dan masuk ke rumah bergegas untuk berangkat ke kantor.

Lisa sangat kesepian dan sangat merindukan kehadiran orang tuanya terutama Papa.

Malam itu, Lisa tidur ditemani oleh pengasuhnya setiap malam. Lisa terbangun dan berjalan keluar kamarnya, "Papa! Mama!" Panggilnya sambil mengucek-ngucek mata kanannya yang gatal. Tidak ada jawaban! "Papa! Mama!" Panggilnya lagi. Tetap tidak ada jawaban.

Ternyata papa, mama masih belum pulang ke rumah.

Lisa berjalan menuju garasi mobil untuk memandangi mobil kesayangan papa. Lisa membuka pintu garasi dan tampaklah mobil cadillac berkilau milik papa. Lisa berjongkok di depan pintu mobil cadilac papa dan mengagumi warna hijau metaliknya yang licin dan berkilat.

Lisa dapat menatap pantulan wajahnya di pintu mobil itu. Dia mengaguminya dan mengerti bahwa mobil ini membuat papa bahagia.

"Lisa mau buat papa bahagia!" Kata Lisa sambil berusaha mencari-cari sesuatu untuk menggambari mobil papa.

Lisa menemukan sebuah paku beton yang panjang di dalam kaleng bekas cat milik papa bersama tumpukan paku-paku lainnya. Hanya itu satu-satunya benda yang dapat dijangkaunya.

Guru TK Lisa pernah mengajarinya menggambar, oleh karena itu Lisa menggambari pintu mobil cadilac papa dengan wajah papa dalam bentuk bulatan besar dan wajah Lisa dalam bentuk bulatan kecil.

"Badan Papa kotak!" Gumam Lisa, "Papa Besar!"

"Badan Lisa segitiga" katanya tertawa.

"Papa dan Lisa gandengan tangan naik mobil jalan-jalan!" Demikianlah Lisa menggambari cadilac papa dengan gambar khas anak kecil.

Lisa membuang paku itu tepat di depan pintu mobil dan beranjak kembali ke kamar tidurnya.

Tengah malam papa dan mama pulang dalam keadaan lelah dan letih. Sebelum tidur papa hendak melihat dan mengagumi cadilac hijaunya sebelum berangkat tidur.

Semua tampak baik-baik saja hingga papa melihat coretan yang amat sangat dalam itu tercoreng di pintu mobilnya hingga cacat.

Tanpa berpikir panjang, papa langsung berlari ke kamar Lisa dalam keadaan marah besar dan merampas lengan baju Lisa yang tertidur pulas dan menyeretnya ke garasi serta menjatuhkannya di depan pintu mobil cadilacnya.

Lisa tampak shock dan ketakutan dengan sifat berang papa malam itu. Dia tidak pernah melihat papa melakukan tindakan seperti itu sebelumnya.

"Kamu yang coret-coret mobil papa!!!" Bentak papa kasar.

Lisa memandangi pintu mobil papanya dan tersenyum lebar, "Lisa mau jalan-jalan sama papa..."

Sebelum Lisa sempat menyelesaikan perkataannya sebuah potongan kayu kasar yang dipungut papa di garasi segera menghantam kedua lengannya dengan keras.

Lisa menjerit kesakitan dan berteriak sekeras-kerasnya, Lisa tidak berhenti-hentinya minta ampun malam itu. Seakan-akan papa tidak mendengarkan kata-kata Lisa dan meneruskan pukulannya tanpa ampun ke lengan Lisa.

Mbak Mira segera berlari dan menrengkuh Lisa ke pelukannya. Kulit Lisa tersobek-sobek dan berdarah akibat potongan kayu yang kasar dan kotor yang dipakai papa memukul.

Setelah papa puas melampiaskan rasa marahnya papa membuang kayu itu dan menyuruh mbak Mira memberinya betadine.

Semakin hari papa dan mama semakin tenggelam dalam kesibukan mereka dan semakin hari luka Lisa tidak kunjung sembuh dan mulai bernanah. Mama hanya mengatakan, "Beri saja betadine!" saat mbak Mira minta ke rumah sakit.

Mbak Mira tidak bisa berbuat apa-apa, hingga akhirnya Lisa mengalami demam tinggi yang tidak kunjung turun.

Mama dan papa segera membawa Lisa ke rumah sakit. Dokter mengatakan, "Kedua lengannya harus diamputasi, lengannya sudah membusuk dan bisa mengakibatkan kematiannya bila tidak segera diamputasi. Saya bisa menolongnya jika saja luka itu masih baru."

"Aku mendengar mama menangis berteriak-teriak, tetapi aku tidak mengerti kenapa?" kata Lisa dalam hati yang hanya bisa berbaring di ranjangnya menahan rasa sakit yang menusuk tulangnya.

Operasi akhirnya berjalan dengan lancar dan Lisa siuman dari efek obat biusnya. Kini Lisa telah kehilangan kedua lengannya. Dia tidak bisa makan dan minum tanpa bantuan mbak Mira. Lisa tidak bisa lagi menggambar dan menulis lagi.

"Anda bisa masuk sekarang, pak." kata perawat yang baru saja keluar memeriksa Lisa.

Lisa langsung tampak amat sangat ketakutan ketika melihat papa membuka pintu kamar rumah sakit dan melangkah masuk.

Lisa langsung berteriak dan menangis histeris, "Papa ampun! Papa ampun! Lisa janji tidak nakal lagi!" tangisnya.

"Jangan ambil tangan Lisa, pa... Lisa tidak bisa menggambar lagi."

"Lisa janji tidak menggambari mobil papa lagi."

"Balikin tangan Lisa, pa... Balikin tangan Lisa, pa... Tangan Lisa jangan diambil, pa..." demikian Lisa berulang-ulang meminta ampun dan memohon supaya papa mengembalikan tangannya yang hilang. Sementara mama dan mbak Mira tidak berhenti menangis di samping Lisa.

Papa segera berlari pulang dan menangis dengan sedihnya, hati papa hancur saat melihat kepedihan dan penderitaan Lisa yang diakibatkan oleh kebodohannya.

Papa berlari pulang ke rumah malam itu...

Papa mengeluarkan pistol yang disimpannya di laci meja kerjanya dan meletuskannya tepat di kepalanya...

Papa tidak sanggup mengampuni dirinya sendiri, papa terlalu hancur dengan perbuatan yang dilakukannya...

Papa tidak mempunyai kekuatan apapun untuk mengembalikan lengan Lisa...

Lengan Lisa yang akan selalu memeluk tubuhnya saat bermain...

Lengan Lisa yang akan selalu menggandeng tangannya erat-erat saat menyeberang jalan...

Lengan Lisa yang penuh dengan kasih dan penerimaan saat melihat papa pulang ke rumah...

Lengan Lisa yang akan terus memeluk papa dan berkata, "Papa, aku cinta padamu."

***

Terkadang hal kecil dan sepele sering kali membuat kita meledak dalam emosi hingga akhirnya kita melakukan kebodohan yang mengakibatkan kita menyesal pada akhirnya.

Penting sekali bagi kita untuk selalu berusaha mengendalikan diri kita, emosi kita, perkataan kita sebelum perkataan itu menjadi memuncak hingga membuahkan tindakan yang mengakibatkan kita menyesal seumur hidup.

Hidup ini hanya sekali saja, kasihilah orang-orang yang dekat di hati anda sebelum mereka pergi untuk selamanya.
Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air, jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.
Semoga Tuhan Memberkati Hari dan Hati Anda dengan Damai Sejahtera dan Kasih...


"Diam dan Jangan Mengambil Keputusan Apapun!"
Adalah cara terbaik yang dilakukan saat kita sedang dikuasai amarah.



*Kisah dalam cerita ini telah menggunakan nama samaran.

1 komentar:

  1. gara2 kebodohan lisa sendiri lah sehingga menyebabkan dia kehilangan kedua tangannya dan ayahnya bunuh diri

    BalasHapus