Kami (saya dan suami) sedang melakukan perjalanan untuk pulang ke
kampung halaman saya di Bali.
Kami sangat bahagia dan mendambakan saat-saat itu, dimana
kami sekeluarga bisa berkumpul dan berlibur bersama.
Setibanya
kami di Bali, kami mengendarai taxi dan tiba di rumah kami. Kami
berkumpul dan merencanakan akan pergi ke Klungkung di mana salah satu keluarga
kami tinggal. Klungkung terletak 25 km dari kota Denpasar cukup dekat dan kami
bisa melajukan mobil kami dengan kecepatan tinggi.
Pagi hari sebelum kami pergi ke Klungkung tiba-tiba mama
tidak sadarkan diri dan harus dilarikan ke rumah sakit. Mama harus melakukan
observasi sehingga menghalanginya untuk pulang ke rumah hari itu juga.
Mama akhirnya menginap di rumah sakit selama 4 hari dan
dengan demikian kami membatalkan kepergian kami ke Klungkung dan memutuskan
untuk menjaga mama di rumah sakit.
Pada hari yang ke-4 mama akhirnya diperbolehkan pulang ke
rumah. Setelah ternyata mama dinyatakan tidak mengalami apapun (sehat) dan mesin CT scan yang dipakai untuk mengobservasi mama ternyata konslet sehingga hasilnya benar-benar salah.
Saya dan suami sudah tiba di Surabaya karena segudang pekerjaan kami berdua telah menunggu.
Saya dan suami sudah tiba di Surabaya karena segudang pekerjaan kami berdua telah menunggu.
Pada saat perjalanan pulang ke rumah, ban mobil yang
dikendarai mama bersama papa tiba-tiba pecah dan sungguh sangat beruntung papa
tidak melaju dengan kecepatan tinggi saat itu.
Akhirnya mobil kami dibawa ke bengkel resmi dan montir yang
menangani mobil papa berkata bahwa ke-4 karet ban mobil papa sudah mati dan
tidak elastis lagi. Memang ban mobil itu sudah tidak diganti selama 5 tahun,
karena sejak mama mengalami stroke papa tidak lagi bisa memperhatikan yang lain
selain mengurus mama bersama kakak perempuanku.
Papa bercerita dan betapa bersyukurnya saat itu karena Tuhan
menggagalkan kepergian kami ke Klungkung. Apa jadinya bila mobil kami dipakai bepergian jauh dan kami sekeluarga 5
orang dengan 1 pekerja (sedangkan pekerja kami memiliki balita dan istri) melaju dengan kecepatan tinggi dan kemudian ban
mobil pecah sehingga kami kehilangan kendali.
Kami tidak bisa membayangkan bila kami sekeluarga mengalami kecelakaan maut. Karena salah seorang teman saya kehilangan seluruh anggota keluarganya dalam kecelakaan maut sementara ia mengalami patah pada tulang punggungnya.
Kami tidak bisa membayangkan bila kami sekeluarga mengalami kecelakaan maut. Karena salah seorang teman saya kehilangan seluruh anggota keluarganya dalam kecelakaan maut sementara ia mengalami patah pada tulang punggungnya.
Dari kejadian ini kami belajar betapa kita harus terus
meletakkan pengharapan kita pada Tuhan, sbab Ia adalah sauh yang aman bagi
kita. PerlindunganNya yang supranatural sungguh nyata dan ajaib dalam hidup kita.
Tuhan Memberkati..
Tuhan selalu mengerjakan segala yang baik, sekalipun menurut manusia itu hal yg tidak baik.
BalasHapusAminnn... Thank you, my brother...
BalasHapus